Cerpen
ADINDA
DAN PADA AKHIRNYA
Oleh:
Maya Marliana Sharma
Adinda
tidak menyangka semua ini akan terjadi. Dia menyesal telah melakukan perbuatan
yang hina itu bersama kekasihnya Robin. Gadis itu percaya sepenuhnya kepada
kekasihnya, sehingga ia mau memberikan apapun yang diminta Robin, termasuk
keperawanannya.
"Robin,
kita ketemu di tempat biasa, ada yang mau aku bicarakan.” ucap Adinda di dalam
telfon, Robin mengiyakan ajakannya. Dan Adinda pun segera bersiap-siap untuk
pergi ke sebuah tempat yang telah dijanjikannya.
Sesampainya
di taman, tempat favorit Adinda dan juga Robin. Robin sudah duduk di sana,
dengan memakai jacket berwarna hijau daun. Adinda langsung duduk di samping
Robin.
“Ada
apa, Sayang. Kok wajah kamu kayaknya tegang banget.” cetus Robin sembari
mengelus kerudung Adinda yang berwarna ungu tersebut.
“Robin,
aku hamil dua bulan..” kata Adinda, matanya berkaca-kaca. Sontak Robin
terkejut. Menatap mata Adinda dengan ketidakyakinan.
“Kamu
becanda yah..” cetus pria itu tegang.
“Robin!
Kamu jangan diam aja dong. Jangan buat aku semakin gelisah.” Kemudian Robin
berdiri. Kedua tangannya dimasukkan ke saku jacketnya. Ia membelakangi Adinda.
Entah apa yang tengah dipikirkan lelaki itu?
“Aku
belum siap, Adinda. Aku belum siap untuk menikah.” kata Robin. Adinda langsung
berdiri tepat di belakang Robin. Airmatanya semakin menghimpit. Mendengar Robin
bicara seperti itu.
“Apa
kamu bilang, belum siap? Robin! Siap gak siap, kamu harus tetap nikahin aku.
Kamu harus tanggung jawab atas bayi ini. Aku gak mau yah, jadi bahan hinaan
orang, sedangkan kamu malah enak-enakan ninggalin masalah ini gitu aja. Ini
masalah kita berdua, jadi kita yang harus menanggungnya berdua. Kamu tuh jangan
bikin aku stres, Robin..” Adinda mulai mengeluarkan airmatanya. Menahan rasa
sakit di dadanya.
“Aku
masih sekolah, Dinda.. dan aku masih pengen tetep sekolah. Jadi aku belum siap
untuk menikah sekarang.”
“Kamu
pikir aku enggak? Aku juga masih pengen sekolah.. kalau bukan karena perbuatan
kamu, aku gak mungkin menderita seperti ini, Robin..” Adinda semakin menangis,
ia tak kuasa membendung airmatanya itu. Airmata kepedihan.
“Okeh,
gini aja. Sebaiknya kamu gugurkan kandungan itu. Karena gak akan ada gunanya
juga kalau kamu melahirkan bayi haram itu.”
CPRETTT...!!! satu
tamparan melayang ke pipi Robin. Emosi Adinda sudah terbakar. Dia tidak
menyangka kalau Robin bakal bicara seperti itu. Benar-benar menyakitkan
batinnya.
“Tega kamu, Robin. Kamu tega mau bunuh bayi kamu sendiri. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?” sahut Adinda dengan suara meninggi. Robin hanya mengerang kesakitan, sembari mengusap pipi yang merah bekas tamparan dari tangan Adinda itu.
“Ini jalan satu-satunya, Dinda, kalau kamu gak mau malu dan dihina di depan semua orang. Bayi itu hanya akan membawa sial dalam kehidupan kamu. Terserah kamu mau lakuin atau enggak, yang penting sekarang, jangan pernah ganggu hidup aku lagi. Hubungan kita cukup sampai di sini.” Robin hendak melangkah pergi. Adinda segera mencegah dan menangkap tangan Robin sembari menangis histeris.
“Robin kamu mau kemana?
Kamu jangan tinggalin aku.. aku butuh kamu, Robin. Kamu harus tanggung jawab..
kamu gak boleh pergiii..” Adinda mengangis histeris, sembari mengenggam erat
tangan Robin. Ia tidak peduli, karena di taman itupun tidak terlalu banyak
orang.
“Haah.. sudahlah..
jangan ganggu hidup aku lagi!!” Robin dengan ganas melepaskan genggaman tangan
Adinda, sehingga Adinda tersungkur ke dasar tanah. Robin terus melangkah pergi,
tanpa memperdulikan Adinda sama sekali.
“Robiiinn...” Adinda
menjerit memanggil nama Robin, sembari dihujani airmatanya.
***
Di
sekolah. Adinda terkejut saat masuk kelas, melihat tulisan di papan tulis yang
menjelek-jelekkan namanya ~Adinda cewek
murahan. Hamil diluar nikah, cewek gampangan. Munafikk!!~ Dia terkejut.
Ternyata kabar kehamilannya itu sudah tersebar dimana-mana, termasuk
teman-teman sekelasnya mengetahui aibnya itu. Siapa yang menyebarkan? Apa
mungkin Robin? Tidak mungkin, dia bukan siswa sekolah ini. Adinda menangis dan
meronta. Semua yang di kelas memandangnya sinis dan jijik.
“Kelihatannya
aja alim, pake jilbab, tapi dalemnya busuk. Ih.. amit-amit deh..” cetus salah seorang siswi
di kelas itu. Adinda tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan menangis.
Tiba-tiba seorang siswa masuk kelas memanggil Adinda.
“Adinda,
kamu dipanggil kepala sekolah..” Jantung Adinda semakin berdebar kencang, saat
dirinya dipanggil kepala sekolah. Kemudian ia langsung pergi dengan membawa
tasnya menuju ruang kepala sekolah.
Sesampainya
di sana, Adinda begitu terkejut melihat papanya tengah duduk di depan kepala
sekolah. Rasanya saat ini dunia benar-benar serasa runtuh. Adinda menahan
tangisnya dalam hati, kemudian duduk di samping papanya yang tengah menunjukan
mimik muka kecewa.
“Adinda,
dengan berat hati, saya putuskan untuk mengeluarkan kamu dari sekolah ini.”
Dug! Petir menyambar dengan cepat. Adinda tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya
rasa terkejut dan sesak saat mendengar dirinya dikeluarkan dari sekolah. Adinda
benar-benar tidak menyangka, bahwa berita kehamilannya sampai terdengar oleh
kepala sekolah. Gadis itu mencoba menahan tangisnya setelah menerima kenyataan
yang begitu pahit ini.
***
Setelah
sampai di rumah. Tak segan-segan amarah ayahnya mulai membara setelah menerima
kenyataan anak gadisnya hamil di luar nikah. Belum sempat Adinda tepat
menginjak anak tangga untuk memasuki kamar, kepalan tangan yang keras telah
mendarat di wajahnya yang sejak tadi merasa ketakutan. Adinda merintih
kesakitan. Ayah Adinda semakin kalap dan seperti ingin membunuh anaknya.
“Anak
nggak tahu diuntung! Bikin malu! Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga ini!
Kamu sudah melempar kotoran ke muka saya. Anak kurang ajar!” cptreet...!
plak..! dug..! dess..! Bentakan ayah yang membuming dan pukulannya yang nyaring
hingga terdengar oleh seorang pembantu di rumah itu, hanya saja pembantu wanita
separuh baya itu hanya bersembunyi sembari menatap kejadian itu dengan pilu dan
iba. Ayah Adinda terus menghajar anak perawannya dengan menyambit tubuh Adinda
memakai gesper. Adinda terus menjerit kesakitan, sambil terus memohon ampun
kepada ayahnya dan meminta untuk menghentikan siksaannya.
“Ampun,
Pah.. ampuun..” Rintih Adinda mengaliri airmata yang begitu deras. Tidak lama
setelah Adinda habis bersih disiksa ayahnya, barulah Rezas segera datang, dan
cepat menghentikan siksaan ayahnya terhadap adiknya tersebut.
“Cukup,
Pah! Kenapa papah tega menyiksa Adinda, Pah? Apa salah dia..?” Suara Rezas
terdengar meninggi, sepertinya ia tidak terima Adinda di perlakukan seperti
itu.
“Apa
salah dia, kamu bilang? Dia.. dia aib keluarga ini. Dia hamil di luar nikah.
Dasar anak pembangkang! Anak tidak tahu diuntung!” Kembali ayahnya hendak
memukul Adinda, tapi Rezas segera mencegah, hingga ayahnya merasa kelelahan dan
kemudian pergi menuju kamarnya.
Di
pojok sana, Adinda hanya menangis menahan rasa perih dan sakit diseluruh
tubuhnya bekas pukulan yang dilampiaskan ayahnya barusan. Airmatanya deras membasahi kerudungnya. Rezas segera
menghampiri adiknya yang malang itu. Ia menjongkok dan mulai menanyakan
kebenarannya.
“Benar
apa yang dikatakan papah? Kamu hamil?” tanya Rezas pelan. Adinda hanya
menganggukan kepala, sesekali airmatanya terus terjatuh. Rezas terlihat menahan
rasa kecewa. Matanya berkaca-kaca penuh kepiluan. Ini adalah kenyataan yang
paling buruk yang menimpa keluarganya.
“Siapa
ayah dari bayi itu? Siapa yang akan tanggungjawab dengan semua ini, Dinda..?”
Suara Rezas terdengar membentak. Adinda terus saja menangis, setelah bentakan
dari ayahnya, sekarang Adinda harus menerima benatakan dari kakaknya. Sungguh
hidup ini sangat kejam.
“Jawab,
Dinda.. jawab pertanyaan kakak. Apa kamu sanggup menanggung beban ini sendirian?
Siapa laki-laki yang menghamilimu? dan di mana dia sekarang? Apa dia mau
bertanggungjawab?” Adinda mengusap sedikit airmatanya, dan menggelengkan
kepalanya dengan tiada pasti. Rezas kewalahan. Sepertinya ia telah direndam
emosi yang lebih-lebih dari ayahnya.
“Bodoh
kamu! Sekarang kamu tahu akibatnya kan? Kamu ditinggalin sama laki-laki biadab
yang kamu percayai itu. Sekarang hidup kamu benar-benar hancur, Dinda.. kenapa
kamu tidak bisa berpikir kesana, hah!!.. Kakak kecewa sama kamu..” Setelah itu
Rezas segera pergi dari hadapan Adinda yang masih tersedu-sedu menangis.
Rasanya memang dunia ini sudah runtuh dan tidak tersisa apa-apa lagi. Semua
orang jadi membenci Adinda. Tiada lagi orang yang sayang kepadanya. Mungkin
dunia juga sudah terlanjur benci, sehingga Adinda diberikan hukuman yang begitu
berat. Sekarang bagaimana nasib Adinda dan anaknya? Mau dibawa kemanakah janin
yang sangat tidak diharapkan itu? Sementara dirinya betul-betul tersiksa dan
tidak ada lagi yang memperdulikannya. Bahkan laki-laki yang amat dicintainya,
yang begitu dipercayainya, sampai Adinda rela memberikan sesuatu yang paling
berharga dalam hidupnya, laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya pun kini
telah menghianatinya.
***
Semenjak
itu Rezas jadi cangguh kepada Adinda. Dia tidak pernah menyapa adiknya seperti
biasa, bahkan tersenyum pun sudah enggan lagi. Adinda merasa tidak ada gunanya
lagi tinggal di rumah yang seperti neraka itu. Gadis itu pun memutuskan untuk
pergi dari rumah, dan meninggalkan semua kenangan buruk yang pernah terjadi di
rumah yang tiada kasih sayang itu.
Adinda
berjalan di pinggir jalan raya dengan sempoyongan sembari mendendeng tas
besarnya. Entah kakinya akan melangkah kemana, Adinda sendiri berjalan dengan
tiada kepastian. Dia tidak punya saudara, dan juga teman dekat, karena semua
teman dan sahabat-sahabatnya selalu menghindarinya. Gadis itu berkali-kali
hanya bisa menangis meratapi penderitaannya.
Adinda
berdiri di depan rumah yang sudah tidak asing lagi baginya. Ya, rumah yang
bercat putih dan megah itu adalah rumahnya Robin. Rumah inilah yang menjadi
saksi kenangan buruknya bersama Robin. Andai waktu itu tidak kejadian, Adinda
tidak mungkin menderita seperti ini.
Setelah diterima masuk
oleh satpam yang menjaga gerbang di depan, Adinda dengan pelan mengetuk pintu
rumah itu. Tidak lama kemudian, seorang pria berbaju darbos merah dengan celana
pendek selutut muncul di hadapan Adinda setelah pintu dibuka. Adinda terkejut
menatap wajah Robin yang sepertinya tidak suka melihat kedatangan Adinda.
“Ngapain lagi kamu ke
sini? Denger yah, diantara kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi
meningan sekarang kamu pergi dari sini..” Robin membentak, yang justru malah
mengundang airmata Adinda yang sudah hampir kering.
“Robin.. aku udah gak
punya siapa-siapa lagi.. cuma kamu yang aku butuhin sekarang, demi bayi kita,
Robin..! aku mohon.. Cuma kamu satu-satunya yang aku harapkan..” Adinda memohon
sambil menangis. Tangannya menggenggam erat tangan Robin yang kekar. Robin
tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya memendam amarah.
“Lepasin! Kamu pikir
aku peduli? Denger yah, aku udah ngasih saran buat kamu supaya kamu gugurin
kandungan itu, maka semua masalah akan selesai. Tapi kamu gak pernah mau
denger. Dan sekarang itu terserah kamu. Jangan campur adukkan aku dengan
masalah yang gak jelas ini.” Robin segera melepaskan tangannya dari genggaman
Adinda.
“Kamu tidak pernah tahu
bagaimana menderitanya aku. Kamu egois, Robin. Kamu sudah mendapatkan apa yang
kamu mau, setelah itu kamu tinggalin aku gitu aja. Kamu itu gak lebih dari
seorang baj..” Cpreeett..! satu tamparan mendarat keras di pipi Adinda yang
basah. Robin geram dan menahan kepalan tangannya setelah melampiaskan tamparan
yang menyakitkan itu kepada mantan pacarnya, sekaligus gadis yang sudah dihamilinya.
Adinda hanya bisa merintih dan airmatanya semakin deras. Dengan teganya Robin
segera masuk ke dalam dan menutup pintu itu rapat-rapat.
“Robin.. Robin buka
pintunya.. Robin...” Adinda menghujam tangisan yang tak terbendung lagi,
sembari digedur-gedurnya pintu itu dengan perasaan kesal yang amat dalam.
Mungkin disinilah akhir harapannya yang pelan-pelan menghisap semua
kebahagiaannya. Sudah tidak ada lagi harapan hidup untuk seorang gadis yang
masih belia itu. Siapa yang peduli? Tiada lagi malaikat cinta dalam hidupnya,
seperti almarhum ibunya. Ia duduk sempoyongan tiada berdaya. Sesekali
menggebuk-gebuk perutnya yang di dalamnya terdapat janin yang sangat tidak
diharapkannya itu. Adinda sungguh tidak rela jika bayi itu lahir tanpa seorang
ayah. Rasanya memang sudah mau kiamat. Mungkin mati adalah jalan untuk
menghapus semua penderitaannya yang tiada kian berujung.
***
Sebulan kemudian. Rezas
sudah gelagapan seminggu terakhir ini mencari keberadaan Adinda. Setelah satu
hari Adinda kabur dari rumah, Rezas baru menyadari kesalahannya yang selama ini
tidak memperhatikan Adinda lagi. Seharusnya bukan sikap itu yang ditonjolkan di
depan Adinda yang justru membutuhkan semangat dan dorongan dari orang-orang
terdekatnya. Rezas hanya bisa menangis setelah membaca buku diary Adinda yang
tertinggal di bawah bantalnya.
~Preity..
dunia rasanya gelap sekali. Tidak ada cahaya yang menerangi sedikitpun. Mata
hatiku sudah gelap. Semuanya gelap, Preity.. sehingga aku tidak bisa mengenal
apa-apa lagi. Mengapa dunia begitu kejam, Preity.. aku tahu ini kesalahanku,
aku tahu ini kebodohanku. Tapi aku tidak sanggup menahan penderitaan ini,
sungguh aku tidak sanggup, Preity. Rasanya aku ingin menyusul Mama yang sudah
lama ada di sana. Aku ingin mati. Aku sudah tidak mau lagi hidup di dunia ini...
T_T~
Seperti itulah curahan hati Adinda di
buku diary yang namainya preity pada lembar terakhir. Rezas merasakan
kekhawatiran yang amat dalam. Bagaimana nasib adiknya sekarang? Di mana Adinda?
Sudah satu bulan ia tidak berjumpa dengan Adinda.
***
Rezas
kembali menyalakan mobilnya. Setelah pulang dari kampus ia segera pergi untuk
mencari Adinda kembali. Rezas tidak akan menyerah, sebelum menemukan Adinda,
dan memastikan bahwa Adinda baik-baik saja.
Dengan
keadaan pusing dan cemas, laki-laki yang sudah berumur matang itu menyetir
mobilnya, sembari memikirkan Adinda. Pikirannya terpokus pada Adinda yang
sekarang tidak diketahui keberadaannya. Pada saat itu Rezas kebingungan melihat
segerombolan orang berlari-lari di pinggir jalan seperti tengah mengejar
maling. Benar saja! Karena sebagian orang juga tengah meneriakkan maling. Rezas
segera memakirkan mobilnya, dan bertanya kepada salah satu warga yang ikut
kejar-kejaran itu. Sebetulnya ini tidak penting, karena Rezas harus terpokus
mencari Adinda. Tetapi hatinya merasa bahwa sedang ada yang tidak beres.
“Pak,
orang-orang itu lagi pada ngejar apa?” tanya Rezas.
“Oh,
itu. Ada orang gila maling duit di dagangan orang.”
“Orang
gila?”
“Iyah,
orang gila baru di desa ini. Sebulan yang lalu mau bunuh diri tapi ke tolong
sama warga di sini, dan akhirnya dia jadi stres.” Kemudian terdengar sebuah
teriakkan lagi dari seorang warga.
“Weyy..
malingnya udah ketangkap, ayo kita gebukin..” teriaknya sampai terdengar oleh
Rezas yang sedang ngobrol sama bapak-bapak itu.
“Udah
ketangkap katanya. Mari mas, saya kesana dulu.” Rezas pun membuntuti
bapak-bapak itu dari belakang, menuju ke segerombolan warga yang tengah
memukul-mukul maling tersebut.
“Huu..
dasar maling tidak tahu diri.. cantik-cantik kok jadi maling. Gila lagi..”
sahut salah seorang warga yang ikut beraksi menghakimi maling itu. Rezas tanpa
sengaja melihat siapa yang tengah dikerumuni masa itu. Refleks Rezas terkejut
bukan main. Wajah gadis yang tengah dipukul masa itu seperti wajah Adinda, tapi
tidak terlalu jelas. Rezas segera menghentikan aksi warga tersebut. Setelah
para warga itu menghentikan aksi pukulannya, Rezas langsung berlinang airmata,
ternyata yang dilihatnya itu benar. Gadis itu memang Adinda adiknya. Rezas
sembari menangis menghampiri gadis yang tengah tidak berdaya merintih kesakitan
karena dipukul-pukul masa. Gadis itu hanya jongkok dan menunduk menahan sakit.
“Adinda..”
Rezas menatap muka memar adiknya yang sepertinya tidak mengenali dirinya. Gadis
itu terlihat kebingungan menatap Rezas.
“Maaf,
pak polisi.. saya sudah mencuri. Karena saya butuh uang buat makan. Saya gak
punya uang pak polisi..” kata Adinda ketakutan. Rezas langsung memeluk Adinda
yang memang sudah tidak mengenalnya lagi. Adinda sudah terkena gangguan jiwa, sehingga
ia tidak mengenal siapa Rezas. Semua warga menatapnya dengan heran. Bahkan ada
juga yang menangis melihatnya. Rezas sungguh tidak menyangka adiknya akan
menjadi seperti ini.
“Ini
kakak, Dinda.. kita pulang yah.. kamu punya rumah, kamu punya kakak..” sahut
Rezas sembari menangis. Adinda masih menunjukan muka heran.
“Rumah?
Kakak?”
“Iya,
Dinda.. ini kakak. Kakak sayang sama, Dinda. Maafkan kakak sudah menelantarkan
kamu selama ini. Kakak sayang sama kamu, Dinda..” Rezas kembali memeluk Adinda erat.
Linangan airmatanya semakin mengundang warga untuk ikut merasakan haru biru
yang terjadi pada adik kakak ini. Kemudian Rezas membawa Adinda ke mobil.
Sebelum akhirnya pulang, Rezas minta diceritakan apa yang sebelumnya terjadi
kepada Adinda sehingga membuatnya seperti ini? Salah satu warga pun
menjelaskan, bahwasanya sebulan yang lalu, ada seorang gadis yang sepertinya
tengah hamil nekat mau bunuh diri dengan berdiam diri di rel kereta, menunggu
kereta datang. Pada saat kereta sedang melaju, akhirnya ada seorang warga yang
melihat dan langsung mencegah si gadis itu. Namun gadis itu gelagapan dan tidak
mau ditolong, ia berlari ke jalan raya, sehingga sebuah mobil menabraknya.
Kejadian itu membuat sang gadis keguguran. Setelah pulang dari rumah sakit, gadis
itu menjadi bertingkah aneh. Sering ngomong sendiri, nangis sendiri,
ketawa-tawa sendiri. Warga jadi takut melihat tingkah polah gadis itu. Dan
kesananya kelakukan gadis stres itu semakin menjadi-jadi. Ia jadi sering maling
barang-barang warga, harta benda warga. Dan sampai saat ini, dia menjadi
seperti itu.
Rezas
cukup hanya mengeluarkan airmatanya setelah mendengar cerita yang memilukan
yang terjadi pada adiknya itu. Ia hanya menatap Adinda yang masih merintih
kesakitan di dalam mobil. Menatapnya penuh pilu. Rezas hanya bisa ikhlas, jika
pada akhirnya Adinda harus mengalami depresi berat dan mengalami tekanan batin,
sehingga membuat jiwanya terganggu. Dan kini pada akhirnya, Adinda harus
menjalani hidupnya dengan setengah nyawa, karena setengahnya lagi pergi entah
kemana. Tetapi Rezas berjanji akan merawat dan mengasihi adiknya sampai sembuh
kembali. Ia akan menjaga Adinda dengan penuh kasih sayang. Mungkin itulah yang
Adinda harapkan selama ini. Rasa kasih sayang yang tak kunjung datang dalam
hidupnya.
“Adinda..
kakak sayang kamu..” Rezas mengecup kening adiknya dengan linangan airmata.
Baginya, Adinda adalah harta satu-satunya yang harus ia jaga dan ia rawat
sepanjang hidupnya.
Selesai
Terimakasih bagi yang telah mengunjungi blog saya.. semoga bermanfaat jangan lupa Add facebook saya yah teman-teman. untuk menambah silaturahmi Amienn....
Klik disini untuk bergabung dengan facebook saya..
Jangan lupa like fanspage saya disini...
Terimakasih... Wassalamualaikum.. :)

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusini sangat q sangat mengharukan, saya menjadi semakin kokoh untuk menjaga diri saya. terimakasih gan udah jadi inspirasi besar dalam hidup wanita😊
BalasHapus