Cerpen:
By Maya Marliana Sharma
^CINTA DALAM HATI^
Persahabatan
kita seperti sinar fajar dan senja. Dikala fajar tiba akan terasa
menghangatkan, dan dikala senja tiba akan terasa menyejukkan. Itulah
persahabatan, yang selalu menghangatkan dan menyejukkan hati manusia. Terlebihnya kita.
Itulah
kata-kata Fajar yang selalu terngiang di telinga Senja. Siapa Fajar? Dan siapa
Senja? Mereka adalah dua sahabat yang selalu melengkapi satu sama lain.
Pertemuan mereka dimulai sejak masa orientasi SMA, sejak itulah Fajar dekat
dengan Senja, sampai kelas 3 SMA sekarang ini. Tetapi kedekatan mereka hanya
dibatasi oleh status persahabatan. Ya, hanya sahabat. Tetapi Fajar selalu
menulis di buku hariannya, bahwa sahabat itu merupakan bagian dari CINTA..
“Hei,
Fajar..” suara Senja yang lentik menyentakkan Fajar yang tengah melamun di
depan teras kelas mereka. Pagi itu terasa berbeda, saat Fajar melihat Senja
yang tak berhenti menampakkan senyum manisnya. Ada apa? Fajar bertanya dalam
hati.
“Tumben,
kok kayaknya kamu ceria banget hari ini?” sahut Fajar. Senja tetap dengan
senyumnya yang khas bagaikan putri.
“Emh..
kasih tahu nggak yah.. Sebenarnya aku mau cerita sama kamu, Jar.”
“Cerita
apa?” tanya Fajar menatap sepasang bola mata Senja yang indah dan tak pernah
bosan setiap dipandangnya.
“Emh..
semalam, Rangga nembak aku.” Teras Senja. Wajah Fajar seketika menoleh ke
hadapan Senja, dengan perasaan terkejut. Tapi, tak dapat dipungkiri juga kalau
selama ini Rangga juga kelihatannya naksir sama Senja.
“Terus,
kamu nerima dia?” Inilah pertanyaan yang paling inti buat Fajar. Apa jadinya
jika Senja benar-benar menerima cintanya Rangga.
“Iya. Aku
terima dia. Semalam kita jadian.” Oh! Hati Fajar mendadak ciut dan lemas. Pria
itu langsung pura-pura menatap ke depan. Berusaha untuk menerima apa yang
dikatakan Senja.
“Oh..
selamat yah. Semoga kamu dan Rangga bisa langgeng.” kata Fajar walau mengiris
hati.
“Iyah,
amiin..” Senja tersenyum senang. Fajar memaklumi perasaan sahabatnya. Ia harus
menerima bahwa Senja ternyata juga mencintai Rangga. Fajar hanya sebagai
sahabat Senja, yang harus mendukung Senja. Ya, hanya sebagai sahabat.
***
Hari-hari yang dilalui Fajar saat ini begitu berbeda.
Setelah Senja jadian dengan Rangga, Fajar tidak dapat lagi bermain sepuasnya
dengan Senja. Senja terlalu sibuk. Sibuk pacaran mungkin. Ah! Kalaupun begitu,
Fajar mau apa? Dia kan hanya temannya Senja. Tak ada hak untuknya
melarang-larang Senja.
Sebelum-sebelumnya kalau pada waktu istirahat gini, Fajar
dan Senja nongkrong di kantin sambil curhat, dan cerita ini itu. Tapi Fajar
mulai merasa kehilangan Senja. Apa Senja tidak butuh Fajar lagi? Karena dia
sudah memilki Rangga. Sewaktu tadi pagi pun, Senja nampak bermesraan di kantin
bersama Rangga. Membuat Fajar harus merasakan sedih lagi. Fajar menyimpan hati
kepada Senja, sejak pertama kali ia mengenal Senja sebagai sahabat barunya.
Tapi sayang, Fajar tidak pernah mengutarakan perasaannya kepada Senja. Karena
ia merasa, Senja tidak pernah punya perasaan yang sama sebagai mana dirinya.
Maka dari itu, Fajar mengurungkan niatnya untuk memiliki Senja lebih dari
seorang sahabat. Baginya, itu hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah
menjadi nyata.
***
Esok harinya di perpus pada saat jam istirahat. Sesaat
Fajar hendak keluar perpus dengan membawa buku-buku hasil pinjamannya, tidak
sengaja ia menabrak seseorang yang hendak masuk. Dan orang itu ternyata Rangga.
“Sori, Ga, gue gak sengaja.” kata Fajar.
“Santai aja bro.. kebetulan loe di sini. Gue mau nanya,
loe liat Senja gak?” tanya Rangga. Fajar nampak heran sendiri. Bukankah Senja
sekarang menjadi buntutnya? kemana-mana pasti bareng.
“Wah, gue gak tau tuh kemana. Tadi pas istirahat dia
langsung ngilang gitu aja dari kelas. Mungkin lagi sama teman-temannya. Ya udah
kalau gitu, gue duluan yah..”
“Oke oke..” Fajar segera pergi. Karena ia tidak mau kalau
sampai sakit hati ketika melihat Rangga.
Setelah Fajar pergi, Rangga menemukan sesuatu di lantai.
Sebuah buku kecil dengan sampul warna coklat tua. Ia ambil buku itu. Ah! Pasti
ini bukunya Fajar tertinggal. Batin Rangga. Sembari mengamati buku kecil itu
dengan terpati. Perlahan dibukanya buku mini itu oleh Rangga. Kemudian
dibacanya tulisan yang ada pada buku itu. Ya, buku harian Fajar. Wajah Rangga
nampak begitu tak menentu sesaat setelah membaca buku harian Fajar.
***
Setelah pulang latihan kursus komputer, Senja terjebak
hujan lebat. Rangga yang berjanji akan menjemputnya tepat waktu pun belum juga
nongol. Apa mungkin dia juga terjebak hujan? Senja pun segera menelpon Rangga.
“Hallo.. kamu di mana, Rangga?”
“Maaf, Senja. Aku gak bisa jemput kamu..”
“Loh, kenapa? Terus aku pulang sama siapa? Rangga, masa
kamu tega biarin aku pulang sendirian.”
“Kamu coba telpon Fajar aja yah. Maaf banget Senja, aku
ada urusan penting.” Tak berapa lama telpon itu pun tertutup. Senja nampak
kecewa dan kesal dengan Rangga. Bisa-bisanya Rangga memilih urusan lain
daripada pacarnya sendiri. Akhirnya Senja meminta Fajar untuk menjemputnya, dan
Fajar pun menurutinya.
Tak berapa lama, sebuah motor matic menghadang Senja.
Ternyata Fajar sudah sampai. Tetapi dia terpaksa kehujanan. Tubuhnya basah
kuyup, membuat Senja iba melihatnya.
“Ya ampun, Fajar. Maaf aku udah ngerepotin kamu. Kamu
jadi kehujanan deh.” kata Senja memelas.
“Aku gak papa kok, Nja. Lagian, mana mungkin aku tega
biarin kamu pulang sendirian.” Senja hanya tersenyum. Fajar memang selalu
perhatian kepada Senja. Perhatian yang melebihi seorang sahabat. Akankah Senja
mulai menyadarinya?
“Makasih banyak ya, Fajar.”
“Iya sama-sama. Ya udah nih pakai mantelnya.” Fajar
menyodorkan jas hujan itu kepada Senja.
“Lalu kamu mana?”
“Aku cuman bawa satu. Jadi biar kamu aja yang pake, daripada
nanti kamu kehujanan kan?”
“Aku gak mau, Fajar. Masa cuma aku doang yang pake
mantel. Ya udah kalau begitu kita hujan-hujanan aja, gimana?”
“Yakin kamu?”
“Iya, yakin lah.. ayuk ah..”
Keduanya segera menaiki
motor, dan mulai meluncur di jalan raya dengan diiringi percikan air hujan. Hal
itulah yang membuat Senja melupakan rasa kecewanya terhadap Rangga. Fajar
kembali membuatnya tersenyum dan ceria. Fajar begitu bahagia saat kembali
tertawa dan berceria dengan Senja. Diiringi hujan. Ah! Sungguh ini hari yang
indah. Aku akan sangat berterimakasih kepada hujan, yang telah membuat momen
ini menjadi begitu indah. Batin Fajar kala melihat senyum manisnya Senja.
***
Tiba-tiba Fajar menghilang. Tidak ada kabar darinya.
Sudah hampir mau satu minggu Fajar tidak masuk sekolah. Ada apa? kenapa? Apa
yang terjadi dengan Fajar? Mendadak dia menghilang tanpa memberi tahu dia
kemana. Tentu ini membuat Senja resah dan gelisah memikirkan Fajar. Ia tidak
sempat ke rumah Fajar, karena jadwal kegiatannya terlalu padat. Berulangkali
mencoba menghubungi nomornya Fajar, tetapi handphonenya tidak aktif. Terakhir
bertemu Fajar lima hari yang lalu sesaat pulang hujan-hujanan mereka becanda
riang. Keresahan Senja telah ada dipuncak. Apalagi sekarang Rangga yang juga
tiba-tiba mendadak berubah dingin kepadanya. Tidak pernah mau diajak ngomong
berdua. Setiap kali ditanya pasti jawabnya singkat, padat, jelas. Senja merasa
hubungannya dengan Rangga menggantung, dan tidak seharmonis dulu.
Malam hari itu, Senja tengah duduk termenung di depan
teras rumah sembari memandangi ribuan bintang yang terhampar di angkasa.
Keceriaannya kini mulai memudar. Dua lelaki yang sangat ia sayangi kini entah
bagaimana. Fajar tiba-tiba tidak mau lagi ngasih kabar. Dan Rangga yang juga
tiba-tiba tidak mau lagi diajak bicara seperti dulu. Ada apa dengan mereka?
Senja bertanya dalam hatinya.
Tiba-tiba Senja terkejut oleh kedatangan Rangga ke
rumahnya. Ah! Ada apa Rangga tiba-tiba nongol? Senja gak mimpi kan?
“Rangga?” sahut Senja. Rangga hanya menampakkan senyuman
yang sangat dirindui Senja itu. Mereka pun duduk-duduk berdua di depan teras
rumah. Memandangi langit malam.
“Ada yang ingin kusampaikan sama kamu. Dan ada sesuatu
yang harus kamu tahu.” kata Rangga serius. Senja hanya berharap, semoga Rangga
datang kesini bukan untuk memutuskan hubungan mereka.
“Apa?” tanya gadis berbaju biru cerah itu. Kemudian
Rangga mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jacketnya. Dan ia mengeluarkan
sebuah buku mini. Buku hariannya Fajar.
“Ada seorang lelaki yang ternyata lebih mencintaimu
daripada aku. Karena dia mencintaimu sejak dulu, sebelum aku. Aku merasa aku
ini jahat. Karena aku telah merampas kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik
dia. Senja, aku sayang sama kamu. Tapi jauh sebelum itu, ada laki-laki yang
juga sangat menyayangimu melebihi apapun. Kalau saja aku tahu, mungkin aku
tidak akan mendekatimu dan menjadikanmu sebagai kekasihku.” Teras Rangga.
Membuat Senja begitu heran.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Rangga. Kenapa
tiba-tiba kamu bicara seperti itu?”
“Ini. Mungkin kamu akan mengerti setelah kamu membaca
ini.” Rangga memberikan buku mini itu kepada Senja. Senja memang sepertinya
tidak asing dengan buku itu. Seperti ia mengenal buku itu.
Setelah buku itu ada di tangan Senja. Senja pun langsung
membuka dan membacanya.
Sahabat itu merupakan bagian dari cinta. Oh Tuhan, aku
mencintainya. Aku mencintai makhluk ciptaanmu yang satu ini. Salahkah Ya Allah?
Kenapa kecil sekali nyaliku untuk bisa mengungkapkan semua perasaanku
kepadanya. Tapi dia sahabatku. Ya, dia hanya sahabatku. Tapi dia juga cintaku.
Cinta dalam hatiku. Pantaskah aku?
Lautan ada
sebagai penghalang. Tapi dengan perahu, kita dapat menyebranginya. Gunung ada
sebagai penghalang, tapi dengan pesawat, kita dapat melewatinya. Dan
persahabatan, ada sebagai penghalang. Tapi dengan keyakinan, kita dapat memilikinya...
for Senja..
Sebutir airmata Senja berlinang tidak terasa. Setelah membaca
lembaran demi lembaran curahan hati Fajar melalui buku itu.
“Tapi sekarang, aku tidak tahu Fajar di mana? Dia tidak
pernah menghubungiku lagi.. aku ingin bertemu dengan dia, Rangga..” desak
Senja, menyeka airmatanya.
“Ya udah, sekarang kita ke rumahnya Fajar. Kamu minta
penjelasan sama dia, kenapa dia gak pernah masuk sekolah, dan gak pernah
menghubungimu lagi.” Senja langsung setuju dengan ajakan Rangga. Mereka pun
segera pergi ke rumah Fajar.
***
Pembantu di rumah Fajar langsung menyambut kedatangan
Senja dan Rangga. Meski Senja harus menelan kecewa, karena malam ini Fajar
tidak ada di rumah.
“Sebenarnya, Fajar kemana, Bi?” tanya Senja. Perlahan
tapi pasti, pembantu itu mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Mas Fajar dibawa ke Singapore beberapa hari yang lalu.
Dia harus dioprasi di sana.”
“Astaga! Fajar dioprasi? Memangnya dia kenapa, Bi?” Suara
Senja terdengar tinggi, dan terkejut.
“Mas Fajar mengidap penyakit kanker otak. Penyakitnya dia
sudah mau meningkat ke stadium akhir. Lalu Mas Fajar langsung dibawa ke
singapore.”
Petir seolah-olah
menyambar Senja setelah mendengar kabar yang mengejutkan bagi dirinya itu. Dia
tak mampu lagi membendung airmata, dan melelehlah airmatanya. Menangis.
Membayangkan bagaimana keadaan Fajar saat ini. Membayangkan bagaimana
tersiksanya dia selama ini. Fajar tidak pernah cerita soal ini. Sungguh ini
sangat menyakitkan.
***
Senja mendapat kabar bahwa Fajar telah pulang dari
singapore. Sepulang sekolah, tak segan-segan Senja segera menuju ke rumah
Fajar, untuk mengetahui keadaan Fajar.
Sesampainya di rumah Fajar.
“Fajarnya ada, Tante. Saya ingin bertemu dengan dia.”
kata Senja dengan ramah kepada wanita yang merupakan Mamanya Fajar itu.
“Oh, ada. Fajar lagi ada di taman. Mari Tante antar..”
Kemudian Senja berjalan di
belakang Mamanya Fajar. Setelah sampai di taman.
“Fajar. Ini ada teman kamu yang ingin bertemu..”
Senja sangat terlihat iba.
Ia menangis dalam hati, melihat keadaan sahabatnya saat ini. Fajar tidak seperti
dulu. Dia duduk lemas di atas kursi roda. Kepalanya gundul yang hanya ditutupi
oleh cubluk. Wajahnya sangat pucat. Tubuhnya kurus. Oh! Inikah Fajar? Fajar
sungguh berbeda. Sungguh memiris hati Senja.
Setelah ditinggal oleh Mamanya Fajar. Pertemuan kedua
insan itu tak ubahnya melerai airmata. Senja tak dapat lagi menahan airmata
ketika melihat Fajar yang seperti ini.
“Senja..” sahut Fajar dengan lemas. Senja menekukkan
lututnya. Memandangi wajah Fajar yang pucat itu. Meraba wajah Fajar, diiringi
dengan airmatanya.
“Kenapa kamu gak pernah cerita soal ini, Fajar.. kenapa?”
Tanya gadis yang masih berseragam SMA itu sembari menangis. Keduanya sama-sama
menatap bola mata berkaca-kaca yang sayu itu. Fajar juga tidak dapat menahan
telaga matanya. Ia meneteskan airmata ke pipinya. Kemudian ia pegang tangan
Senja yang menyentuh pipinya.
“Maafkan aku, Senja. Aku hanya gak mau orang lain tahu
tentang urusan pribadiku.” kata Fajar. Memandangi Senja dengan berkaca-kaca.
“Tapi bukan cuma ini yang kamu sembunyikan. Bodoh kamu,
Fajar. Kenapa sampai selama itu kamu menyembunyikan perasaanmu. Dan kamu telah
menyiksa perasaanmu sendiri.”
“Maksud kamu..” Senja pun mengeluarkan buku harian milik
Fajar dari tasnya. Fajar terkejut melihatnya. Buku yang selama ini dia cari, ternyata
ada di tangan Senja.
“Ini buku harianmu, kan? Aku sudah baca semuanya.”
“Kenapa bisa di kamu?”
“Itu gak penting. Fajar, seandainya kamu bilang dari dulu
sama aku tentang perasaan kamu. Tapi kenapa kamu membiarkan perasaan kamu
tersiksa, Fajar..” Lagi-lagi Senja hanya menangis.
“Karena di hati kamu bukan ada aku. Dan hati kamu bukan
untuk aku. Aku merelakan apa saja demi kebahagiaan kamu, Senja. Walaupun
kebahagiaan kamu bukan karena aku. Dan sering kamu bilang, kamu senang
mempunyai sahabat sepertiku. Aku cukup tahu diri. Aku mengerti posisiku untuk
kamu. Untuk itu aku ingin selalu ada mendampingi kamu walau hanya sebagai
sahabat.”
“Tapi kamu gak pernah bilang, kalau sahabat juga
merupakan bagian dari cinta. Dan cinta juga bisa seperti sinar fajar dan senja.
Cinta juga bisa menghangatkan dan menyejukkan. Bukan hanya sahabat..” Kemudian
Senja memeluk Fajar. Ia menangis dalam pangkuan laki-laki itu. Fajar mengusap
rambut Senja, dan ikut menangis.
“Aku mencintaimu, Fajar.. aku gak mau kehilangan kamu..”
Betapa kata-kata Senja ini mampu membangkitkan semangat Fajar yang telah redup.
“Aku juga mencintaimu, Senja. Kamu adalah sahabatku,
sekaligus cinta dalam hatiku.” Keduanya saling menumpahkan cinta. Fajar barulah
mau mengutarakan seluruh isi hatinya yang ia pendam sejak dulu terhadap Senja.
“Aku harap. Waktu masih memberikan kesempatan aku untuk hidup lebih lama
lagi..” batin Fajar menangis.
***
Hari ini pelaksanaan ujian nasional di seluruh jenjang
pendidikan. Namun sayang, Fajar tidak ikut melaksanakan ujian, karena
kondisinya yang semakin kritis. Pikiran Senja terusik dan terganggu oleh
bayangan Fajar. Sehingga ia kurang konsentrasi untuk mengisi soal ujian. Senja
selalu kalut dalam pikirannya. Bagaimana keadaan Fajar saat ini? Apa dia sudah pulih
kembali? Beberapa pertanyaan memenuhi ruang memori otak Senja. Gadis itu hanya
menatap lembar soal dengan pikiran yang entah kemana.
Pada saat pulang. Siang yang panas itu mendadak mendung.
Tak lama pun hujan turun dengan derasnya. Senja segera menaiki taksi sebelum
badannya terguyur hujan. Di dalam taksi yang sudah melaju, Senja tidak tahu
apakah ia mau langsung pulang atau mampir dulu ke rumah Fajar. Senja juga ingin
tahu bagaimana kondisi Fajar saat ini. Dan akhirnya Senja memutuskan untuk
pergi ke rumah Fajar. Seolah-olah hatinya tergerak untuk ingin selalu bertemu
dengan Fajar.
Sesampainya di depan rumah Fajar. Senja terkaget-kaget.
Kenapa rumah Fajar dipenuhi dengan orang-orang? Ya, banyak orang di sana.
Membuat Senja bertanya-tanya. Ada acara apa di rumah Fajar?
Perlahan, ia memasuki berandanya Fajar. Di dalam sana,
terdengar isakan tangis yang sangat dahsyat. Hati Senja bergetar kuat. Ah! Ada
apa ini? Tiba-tiba saja Senja merasa ingin menjatuhkan airmata. Setelah berada
di dalam rumah Fajar yang cukup dipadati oleh sebagian orang. Anehnya lagi ada
beberapa orang yang sedang mengaji. Senja kaget luar biasa. Ketika melihat ke
tengah-tengah orang-orang yang sedang mengaji. Di situ terbaring jenazahnya
Fajar. Halilintar dan petir kini benar-benar telah menyambarnya. Airmatapun
tidak dapat lagi ditahan. Senja menangis, walau tidak sehisteris Mamanya Fajar.
“Fajar..” Badan Senja mendadak lemas, tidak berdaya.
Tangisanpun semakin menghadangnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, seakan ia
tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Tidak mungkin..!! teriaknya di
dalam hati.
***
13-April-2013
Bila mana cinta dapat dimengerti, maka hatipun tidak akan mudah
terkoyak. Hari-hari yang indah semakin kurindukan. Hari-hari yang dulu berlalu
walau tanpa sebuah cinta. Kini aku telah menemukan apa yang kucari. Sebuah
makna cinta yang tidak akan sampai tersentuh oleh orang yang jatuh cinta
sekalipun. Aku mengerti ini, Sayang.. aku mengerti kamu. Aku mengerti
persahabatan kita. Aku mengerti perasaanku. Aku mengerti perasaanmu. Dan aku
semakin yakin, bahwa sahabat adalah CINTA...
Seperti
itulah tulisan singkat yang Senja baca pada halaman terakhir buku harian Fajar.
Senja tersenyum, meski dihatinya tak dapat lagi tersenyum, menahan perihnya
airmata. Senja mendekap erat buku itu. Memejamkan matanya. Membayangkan kisah
indahnya bersama Fajar. Sebuah kata-kata Fajar yang selalu tersimpan dihatinya.
Sahabat merupakan bagian dari cinta. Kamu adalah sahabatku, sekaligus cinta
dalam hatiku...
~selesai~
Info Penulis:
Maya_Sharma80@yahoo.com
mayamarlianasharma@yahoo.com
maya.sharma.92775838@facebook.com
http://mayamarlianasharma.blogspot.com
FANSPAGE Laskar Pelangi Kehidupan
Jangan lupa di like.. Thanks... ~_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar